Penyakit suka memuji diri sendiri.
...parah nih... kalau ada orang yang begitu, memang boring nak dengar ceritanya..dia aje yang bagus.
Boleh ke memuji diri sendiri ni?..alasan yang selalu didengar.."abis tu, siapa lagi nak puji kalau bukan aku sendiri?" ..bukan ke desperado tu? Sebuah virus yang merbahaya. lebih bahaya dari H1N1 nih. Orang yang menderitanya, umumnya ingin menunjukan lagak, ingin menunjuk sumbangannya kepada sekelilingnya. Niat-niat ini sinonim dengan riya' dan sum'ah. Tujuan yang salah melalui cara yang tidak terpuji dan salah pula iaitu dengan memuji diri sendiri, sehingga terjadi kekeliruan yang berganda.
Hukum asal memuji diri sendiri:
Pada asalnya, memuji diri sendiri itu terlarang. Hal ini masuk dalam kandungan firman Allah, "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa". (An-Najm:32)
Imam an-Nawawi r.h mengetengahkan ayat diatas dalam perbahasan "pujian seseorang kepada diri sendiri dan menceritakan sisi-sisi kebaikannya". Kemudian beliau menyatakan bahwa menyebut-nyebut kebaikan peribadi merupakan perbuatan tercela jika ditujukan untuk bangga diri, menonjolkan ketinggian martabat, mengunggul-unggulkan diri dihadapan rakan-rakan dan tujuan-tujuan serupa lainnya.
Ke "aku"an
Siapa tak kenal Iblis, Fir'aun dan Qarun?..
Penyakit ke"aku"an inilah yang menjerumus Iblis, Fir'aun dan Qarun ke jurang kekufuran.
Allah berfirman, "Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu(merasa) termasuk orang-orang yang(lebih) tinggi?". Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, kerana Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman, "maka keluarlah kamu dari syurga: sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan". (Shad:75-78)
"Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku.(bukankah) sungai-sungai ini mengalir dibawahku, apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya). (az-Zukhruf:51-52)
"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku". (al-Qashash:78)
Sembunyikan amalanmu dan yakin Allah akan membalas kebaikan anda.
Pada dasarnya, seorang muslim diharuskan bersikap tawadhu, rendah hati, tak menyombongkan diri. Kerana semua kebaikan dan keunggulan dirinya tidak lain bersumber dari Allah.
Namun jika keadaan menuntut kita berbuat demikian, boleh dilakukan, seperti adanya kandungan maslahah diniyyah (manafaat dari sisi keagamaan) contohnya memberi nasihat, mengajak kepada kebaikan, pendidik, menjadi penengah antara dua orang yang berkonflik dan lain-lain.
wallahu a'lam.
Saturday, July 4, 2009
Friday, July 3, 2009
JANGAN MARAH...BAGIMU SYURGA.
Dari Abu Hurairah r.a bahawa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: 'Berilah aku wasiat". Beliau menjawab,"engkau jangan marah". Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian nabi SAW bersabda: 'engkau jangan marah" (hadith sahih. HR Bukhari -6116).
Angry? so angry? Don't make me angry, i'll turn into hulk...
be cool.. :)
Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang terjadi atau kerana ingin membalas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.
Pada hakikat, marah tidak dilarang kerana merupakan perkara tabi'at dari perilaku kebiasaan manusia.
Marah yang dilarang adalah marah mengikuti emosi dan hawa nafsu yang pengaruhnya membawa kepada penyesalan.
Nabi SAW memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai sebab yang dapat menahan dan meredakan amarah seseorang itu. Dan Beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.
Di antara cara yang diajarkan Nabi SAW dalam merendam amarah adalah:
1. Mengucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِDiriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad r.a, ia berkata: "Kami sedang duduk bersama Nabi SAW tiba-tiba ada dua lelaki saling mencaci dihadapan Nabi SAW. Seorang darinya mencaci temannya sambil marah, wajahnya merah, urat lehernya menegang, maka Nabi SAW bersabda: "sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya nescaya hilanglah darinya apa yang ada padanya(amarah). Seandainya ia mengucapkan,
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ(Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk(direjam))".
Para sahabat berkata,"tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?" lelaki itu menjawab,"aku bukan orang gila". (Sahih. HR Bukhari 3282, Muslim 2610).
Firman Allah ,"..Dan jika syaitan datang menggodamu, maka berindunglah kepada Allah. Sungguh , Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (al-A'raf:200)
2. Nabi SAW mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk atau berbaring.
Dari Abu Dzarr r.a, Beliau SAW bersabda: "Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring". (Sahih. HR Ahmad 152, Abu Dawud 4782).
3. Rasulullah SAW mengajarkan apabila seseorang marah, hendaklah ia diam.
Dari Ibnu Abas r.a, Sabda Nabi SAW, "Apabila seseorang dari kalian marah, hendaklah ia diam". (Sahih. HR Ahmad 239, Bukhari;adabul mufrad 245).
4. Nabi SAW menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya.
Dari Mu'adz bin Anas al-Juhani r.a, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari kiamat Allah S.T akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai". (Hasan. HR Ahmad 440, Abu Dawud 4777, at-Tirmidzi 2021 dan Ibnu Majah 4286)
Kesimpulan/ Faedah dari hadis-hadis tadi:
Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan dengan membaca ta'awwudz.
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berzikir dan istighfar.
3. Hendaklah diam
4. Dianjurkan berwudhu' (ada riwayat tentang hal ini tetapi riwayatnya dhaif).
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk, hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirehat.
8. Ingatlah akibat buruk dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
Wallahu a'lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)