Friday, April 17, 2009

Uban oh Uban....

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian menjadikan(kamu) sesudah keadaan lemah itu kuat, kemudian menjadikan(kamu) sesudah kuat itu lemah(kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (ar-Rum:54)

Allah SWT menciptakan Bani Adam dalam beberapa tahap:

  • Tahap pertama; lemah - iaitu masa penciptaan mani hingga menjadi segumpal darah, segumpal daging hingga menjadi janin didalam rahim dan dilahirkan.

  • Tahap kedua; kuat - masa muda dengan kesempurnaan kekuatan fizik dan akal.

  • Tahap akhir; kembali lemah - masa lanjut usia, seseorang kembali lemah dan mulai tumbuh uban.

Uban..? eee...tak nak uban? Mari kita lihat kenapa dikurniakan uban kepada manusia:

1. Sekilas tentang uban:

Uban adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT yang ada pada diri manusia. Ia merupakan peringatan.

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

"....Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi yang mau berfikir? Dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?.... (Fathir:37)


Ibnu Abbas R.A menafsirkan ayat diatas: "pemberi peringatan dalam ayat ini maknanya ialah uban." Penafsiran serupa juga dikatakan oleh at-Thobari.

Kebiasaan uban akan tumbuh bila mencapai usia tua. Jika pun ada anak muda yang beruban, jarang sekali. Jika seseorang telah mencapai usia tua, bererti ia telah mendekati masa penangguhan umurnya didunia ini.

Di riwayatkan oleh at-Tirmidzi:3473; Nabi SAW bersabda, "Umur-umur umatku adalah antara 60 -70 tahun". Maka sangatlah memadai uban sebagai peringatan bagi orang-orang yang mahu memikirkan ayat-ayat Allah yang ada pada dirinya. Juga sebagai pencegah dari perbuatan maksiat kepadaNya.

2. Mencabut uban:

Uban yang telah tumbuh di rambut kepala tidak boleh dicabut. Ini berdasarkan hadis 'Amr bin Syuib R.A dari bapaknya dari datuknya, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Janganlah kalian mencabut uban, kerana ia adalah cahaya seorang muslim. Tidaklah seseorang yang beruban didalam Islam kecuali pasti Allah akan menulis baginya satu kebaikan dengan sebab ubannya itu, diangkat derajatnya dan dihapus satu kesalahannya."

Dari Anas bin Malik R.A berkata: kami membenci seorang laki-laki yang mencabut uban pada kepala dan janggutnya. (atsar riwayat Muslim:4321).

3. Hukum mewarnakan / menginaikan uban:

Secara umum sangatlah digalakan untuk menyelisihi perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani yang enggan menginaikan uban. Sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidaklah menginaikan, maka selisihilah mereka" (HR Bukhari :3203).

4. Menginaikan uban dengan warna hitam:

Islam tidak membolehkan seorang muslim menginaikan rambutnya dengan warna hitam. Hadis riwayat Abu Dawud:3679, sabda Nabi SAW, " Akan ada suatu kaum di akhir zaman yang mereka mewarnakan(rambutnya) dengan warna hitam seperti dada burung merpati. Mereka tidak akan mencium bau syurga."

MasyaAllah...tak cium bau syurga! kalau bau pun tak dapat, apa lagi nak masuk kedalamnya.

5. Menginaikan uban selain warna hitam:

Sebaik-baik adalah hina' dan katam, berdasarkan riwayat berikut:
Rasulullah SAW menginaikan rambutnya dengan warna kuning/perang. Abdullah bin Umar berkata: Adapun warna kuning, maka saya melihat Rasulullah SAW mewarnakan dengannya, lalu saya pun ikut suka mewarnakan dengannya." (atsar riwayat al-Bukhari 167, 5403)
Sabda Nabi SAW, " Sesungguhnya sebaik-baik alat yang digunakan untuk menginai rambut adalah hina' dan katam." (hadis riwayat Abu Dawud:3673)

Al-katam adalah tumbuhan yang menghasilkan inai warna hitam kemerahan, dan hina' ialah tumbuhan yang menghasilkan inai warna merah.

6. Menginaikan uban dengan berbagai warna:

Tamsyis (menginaikan rambut dengan berbagai warna) yang menyebabkan rambut menjadi berwarna-warni tidaklah diperbolehkan kerana ia menyerupai cara orang-orang fasik mewarnakan rambut.


Maka jika tidak kita tidak mengetahui tentang larangan-larangan tadi, maka tidak dihukumi berdosa, Firman Allah dalam at-Taubah:115
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskanNya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Namun, ketika telah mengetahui hukumnya, wajiblah segera bertaubat dari perbuatan tersebut dan menghilangkan warna tersebut dari rambut kita.

No comments: